Parents, Ingin Mengembangkan Kemampuan Anak dalam Memecahkan Masalah? Begini Caranya!

Parents, Ingin Mengembangkan Kemampuan Anak dalam Memecahkan Masalah? Begini Caranya!

Parents, Ingin Mengembangkan Kemampuan Anak dalam Memecahkan Masalah? Begini Caranya!

Tahukah kamu bahwa kemampuan pemecahan masalah yang baik pada anak adalah kunci untuk membantunya mengatur kehidupan saat ini dan di masa depan?. 

Sebuah penelitian pada 2010 yang diterbitkan dalam “Behaviour Research and Therapy”, menemukan bahwa anak-anak yang tidak memiliki kemampuan memecahkan masalah mungkin berisiko lebih tinggi mengalami depresi dan bunuh diri.? Selain itu, para peneliti juga mengatakan bahwa mengajarkan keterampilan tersebut dapat meningkatkan kesehatan mental anak.

Mengapa Keterampilan Pemecahan Masalah Penting?

Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga menghadapi berbagai masalah setiap hari. Mulai dari kesulitan akademis di sekolah hingga masalah sosial dengan dalam lingkungan pertemanan.

Namun, hanya sedikit dari mereka yang ternyata tahu caranya untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Malah, banyak anak yang justru lebih memilih untuk mengabaikan masalah yang dihadapinya karena tidak memiliki kemampuan untuk memecahkannya.

Anak-anak yang tidak memiliki kemampuan memecahkan masalah juga akan bertindak tanpa menyadari pilihannya. 

Ada anak yang mungkin saja lebih memilih untuk memukul temannya yang membuat kesal karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.? Padahal, pilihan impulsif seperti ini dapat menciptakan masalah yang lebih besar dalam jangka panjang.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Sama seperti kepintaran yang harus terus diasah dan dikembangkan, begitu juga dengan kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua kepada anak-anaknya.

1. Mengembangkan Rasa Percaya Diri Anak agar Berani Mencoba 

Salah satu alasan mengapa anak-anak bisa belajar begitu banyak hal saat masih bayi adalah karena mereka belajar melakukan berbagai hal untuk diri sendiri melalui coba-coba. Jadi, jika anak-anak sekarang kesulitan untuk melakukan sesuatu sendiri, salah satu hambatannya adalah rasa takut gagal atau kehilangan kepercayaan diri. 

Berikanlah dorongan lembut dan pujian untuk membangun rasa percaya diri anak. Ini bisa dimulai dari hal kecil seperti merapikan tempat tidur sendiri, mengikat sepatu, atau membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Untuk urusan sekolah, orang tua bisa membantu anak belajar untuk menerima kesalahan.

2. Jangan Selalu Memberikan Jawaban untuk Anak

Sulit rasanya saat orang tua melihat anak-anaknya berjuang. Namun, proses yang dilalui otak mereka saat berjuang dapat membantunya menjadi lebih siap saat menghadapi tantangan serupa. Jadi, membiarkan anak-anak berjuang dan bahkan gagal pada akhirnya dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih baik dan kemampuan pemecahan masalah yang lebih kuat.

Ketika anak meminta bantuan, cobalah merespons dengan dorongan agar dia mencobanya sendiri. Jika tidak yakin bagaimana caranya mendekati masalah, coba ajukan pertanyaan untuk membantunya mengidentifikasi hambatan dan membayangkan solusinya.

3. Ubah Emosi Anak Menjadi Motivasi

Salah satu hal yang membuat pemecahan masalah menjadi tantangan bagi anak-anak adalah emosi yang terkadang dapat menghalangi. Terutama pada anak-anak yang lebih muda. Di sinilah tugas orang tua untuk membantu mengidentifikasi dan memproses emosinya agar mereka menyalurkan energi itu untuk masalah yang sedang dihadapi.

4. Jadi Contoh yang Baik untuk Anak

Anak-anak. khususnya mereka yang masih dalam usia prasekolah, selalu mengamati perilaku orang tuanya. Jadi, strategi dan metode orang tua memberikan contoh langsung kepada anak-anak tentang bagaimana menangani kehidupan ketika terjadi hal-hal yang tidak beres.

Namun, tidak berarti orang tua harus melakukan segala sesuatu dengan sempurna atau tanpa emosi. Mengelola perasaan adalah bagian dari belajar memecahkan masalah, yang juga bisa ditiru oleh anak-anak.

5. Ajarkan 5 Langkah Pemecahan Masalah

Anak-anak yang merasa kewalahan atau putus asa sering kali tidak mau mencoba mengatasi masalah. Namun, ketika diberikan formula yang jelas untuk memecahkan masalah, mereka akan merasa lebih percaya diri dengan kemampuannya untuk mencoba.

Berikut ini adalah langkah-langkah untuk memecahkan masalah:

  • Identifikasi masalahnya. Mengatakan masalahnya dengan lantang dapat membuat perbedaan besar bagi anak-anak yang merasa stuck.

  • Cari setidaknya lima kemungkinan solusi. Saling bertukar pendapat dengan anak mengenai cara-cara yang mungkin bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah. Bantu anak mengembangkan solusi jika dia kesulitan mendapatkan ide. Beritahu padanya bahwa jawaban konyol atau ide yang tidak masuk akal pun bisa menjadi solusi. Kuncinya adalah membantunya melihat bahwa dengan sedikit kreativitas, dia dapat menemukan banyak solusi yang berbeda.

  • Kenali pro dan kontra dari setiap solusi. Bantu anak mengidentifikasi potensi konsekuensi positif dan negatif untuk setiap solusi yang mereka pikirkan.

  • Pilih satu solusi. Setelah anak mengevaluasi kemungkinan hasil positif dan negatif, doronglah dia untuk memilih solusinya sendiri.

  • Uji pilihannya. Katakan kepada anak untuk mencoba solusi yang dipikirkannya dan lihat apa yang terjadi. Jika tidak berhasil, dia dapat mencoba solusi lain dari daftar yang sudah dikembangkannya.

6. Puji Usaha Anak dalam Memecahkan Masalah

Karena anak-anak tidak secara ajaib menyelesaikan masalahnya, maka pujilah mereka atas usaha yang sudah dilakukannya, tak peduli apakah masalahnya berhasil diatasi atau tidak. Orang tua bisa mengatakan ini kepada anak-anaknya:

  • "Ayah/Ibu bisa lihat betapa kerasnya kamu berusaha untuk menyelesaikan masalah ini!"

  • "Kamu sudah benar-benar berusaha keras untuk ini!"

  • "Ayah/Ibu yakin kamu senang karena tidak menyerah. Tekad kamu yang kuat yang telah membantu kamu memecahkan masalah ini!"

  • "Ayah/Ibu tahu kamu bisa mengatasinya!"

  • "Ayah/Ibu bisa membayangkan betapa senangnya perasaan kamu setelah menyelesaikannya."

Keterampilan memecahkan masalah paling baik diajarkan pada anak-anak sejak dini. Saat mereka datang kepada orang tua untuk berbicara atau mengajukan pertanyaan, saat itulah mereka lebih siap untuk belajar. Penting bagi orang tua untuk mengajarkannya pada mereka saat momen itu terjadi.

Ingatlah untuk terus memberikan perhatian kepada mereka. Dengarkan, tunjukkan empati, ajukan pertanyaan terbuka, dan bimbinglah anak-anak sebanyak yang mereka butuhkan, tetapi jangan menyelesaikan masalah untuk mereka. Biarkan anak-anak menyelesaikan masalah mereka sendiri.

~Febria