Skripsi Tak Lagi Diwajibkan, Apakah Mahasiswa Diuntungkan?

Skripsi Tak Lagi Diwajibkan, Apakah Mahasiswa Diuntungkan?

Skripsi merupakan istilah yang menggambarkan karya tulis ilmiah hasil penelitian para mahasiswa jenjang sarjana. Umumnya, skripsi membahas permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan bidang ilmu tertentu. 

Pembuatan skripsi dinilai dapat melatih kemampuan para mahasiswa dalam memecahkan masalah secara sistematis. 

Selain itu, juga mempraktikkan teori-teori yang sudah dipelajari selama masa perkuliahan. Setelah selesai dibuat, skripsi tentunya akan bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan. 

Di Indonesia, sejak lama skripsi wajib dilakukan setiap mahasiswa sebagai syarat menyelesaikan pendidikan S1. 

Namun, belakangan ini beredar kabar bahwa skripsi tidak lagi akan jadi kewajiban atau standar kelulusan mahasiswa jenjang S1. Apakah kabar ini menguntungkan bagi mahasiswa? 

 

Penghapusan Skripsi di Indonesia 

Menurut keterangan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), skripsi tidak lagi jadi standar kelulusan mahasiswa S1. 

Mendikbudristek Nadiem Makarim mengatakan bahwa di dunia saat ini ada berbagai macam cara untuk menunjukkan kemampuan atau kompetensi lulusan. 

“Kampus dapat merumuskan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terintegrasi. Skripsi bisa  digantikan dengan bentuk prototipe, proyek, atau bentuk lainnya,” jelas Nadiem. 

Meski tidak lagi wajib jadi syarat lulus studi sarjana dan sarjana terapan, pelaksanaannya akan dikembalikan kepada perguruan tinggi masing-masing. 

Sementara itu, untuk mahasiswa program magister, magister terapan, doktor,  dan doktor terapan tugas akhir masih berlaku. Namun, pada mahasiswa kategori ini tidak lagi wajib menerbitkan tugas akhir di jurnal. 

Menanggapi kabar ini, Rektor Universitas Airlangga, Prof. Dr. Mohammad Nasih, S.E., M.T., Ak., , mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik hal ini sehingga mahasiswa dapat menyelesaikan studi sesuai passion dan keahlian masing-masing. 

Menurut Prof. Nasih, hal yang perlu ditekankan ialah projek yang dibuat mahasiswa sebagai pengganti skripsi tetap harus ada narasinya dan tentunya tidak boleh plagiat karya orang lain. 

 

Mengenal Berbagai Alternatif Skripsi 

Jika skripsi tidak lagi jadi syarat kelulusan, apa saja alternatif yang bisa bisa dilakukan mahasiswa? Berikut beberapa tugas akhir yang dapat menggantikan skripsi menurut Mendikbudristek: 

 

1. Proyek Kolaboratif

Apa yang dimaksud proyek kolaboratif? Jadi melalui pendekatan yang satu ini para mahasiswa dapat bekerja tim untuk menyelesaikan proyek-proyek inovatif yang relevan dengan disiplin ilmu. 

Proyek yang dikerjakan bisa mencakup penelitian, pengembangan produk atau layanan, hingga menawarkan solusi bagi masalah sosial yang nyata.

Proyek Kolaboratif dapat terbagi menjadi dua jenis. Pertama yaitu tim kerja multidisiplin, di mana mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu akan berkolaborasi, bertukar ide dan pengetahuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang beragam 

Kedua yaitu proyek inovatif, di mana mahasiswa harus merangsang kreativitas dan inovasi. Mahasiswa dapat mendukung pengembangan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pemahaman mendalam mengenai topik tertentu. 

Pada proses mengerjakan proyek ini, mahasiswa bisa mengajukan proposal ke perusahaan yang relevan untuk pendanaan. Jika memang produk yang dibuat bisa memberikan keuntungan dan siap dipasarkan ke konsumen, perusahaan tentunya akan tertarik membiayai. 

 

2. Portofolio

Alternatif lain pengganti skripsi ialah pengembangan portofolio. Pada dasarnya, portofolio bisa jadi wadah untuk menampilkan pencapaian dan perkembangan mahasiswa selama berkuliah. 

Di dalam portofolio, mahasiswa dapat mengumpulkan karya-karya mereka selama masa studi. Mulai dari esai, presentasi, proyek-proyek yang pernah dikerjakan, dan prestasi akademik lain. 

Tentunya bukan sekadar mengumpulkan karya, tetapi harus tetap memenuhi standar dan batasan dari kuantitas hingga kualitas di bawah pengawasan dosen. 

 

3. Magang dan Praktek Lapangan

Pengalaman magang dan praktek lapangan juga bisa menjadi alternatif pengganti tugas akhir. Sebelum lulus, mahasiswa dapat bekerja di industri yang relevan dengan program studi agar mendapatkan pengalaman. 

Namun, tugas magang ini berbeda dengan tugas magang pengganti 20 SKS dalam Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).  Pada tugas magang pengganti skripsi, mahasiswa akan diberikan proyek yang lebih signifikan dan relevan. 

Selama magang, mahasiswa dapat menyelesaikan proyek yang dikembangkan perusahaan sambil membangun relasi profesional. 

 

4. Prototipe Produk

Sebagai pengganti skripsi, mahasiswa juga dapat mengerjakan prototipe produk. Jadi, mahasiswa akan membuat model awal dari sebuah produk atau sistem yang dirancang guna menguji konsep, fitur, hingga fungsi potensial. 

Model prototipe ini bisa digunakan dalam berbagai konteks. Misalnya, pengembangan perangkat lunak, desain produk fisik, atau proyek yang berhubungan dengan teknologi. 

Sebagai contoh, mahasiswa jurusan mesin otomotif bisa membuat prototipe kendaraan bermotor. Untuk pendanaan bisa dibiayai oleh perusahaan yang dibuatkan prototipe produknya. Dengan cara ini, mahasiswa bisa bebas dari biaya penelitian yang tergolong tinggi. 

 

5. Publikasi Ilmiah

Pada tugas  akhir berupa publikasi ilmiah, mahasiswa dapat mengerjakan artikel ilmiah, konferensi, atau riset bersama fakultas. Publikasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan. 

Selain melakukan penelitian, mahasiswa bisa membagikan hasilnya kepada masyarakat dan industri. Jenis tugas akhir ini akan cocok bagi mahasiswa yang ingin berkarier sebagai akademisi atau peneliti. ~Afril