Waspada Hujan Asam!

Waspada Hujan Asam!

Hujan merupakan salah satu sumber air yang penting selain danau, sungai dan sumur apabila sudah tidak bisa digunakan. Hujan juga bermanfaat bagi lahan pertanian, industri dan pembangkit tenaga listrik. Air hujan dapat dimanfaatkan baik untuk kepentingan pribadi ataupun kepentingan bersama. Konon, mandi air hujan juga dapat dijadikan terapi untuk penyembuhan suatu penyakit. Namun, perlu waspada ada hujan yang tidak membawa manfaat namun justru membawa dampak buruk pada lingkungan, yaitu hujan asam. 

Pengertian Hujan Asam

Hujan asam adalah hujan namun air nya memiliki kadar pH yang rendah, bersifat korosif atau mengikis partikel lain. Hujan asam juga biasa dikenal sebagai hujan yang mengandung endapan asam, yaitu kandungan sulfur (SO2) dan nitrogen oksida (NOX) yang terbawa udara, kemudian menyebar pada atmosfer. Hujan asam memiliki tingkat keasaman atau pH di bawah normal, yakni kurang dari 5,6. Adapun hujan yang turun di wilayah Indonesia memiliki pH normal, sekitar 6. Peristiwa hujan asam dapat terjadi akibat dampak erupsi gunung. Namun, hal itu hanya menjadi sebagian kecil penyebab, bahkan jarang terjadi. Meski memiliki dampak negatif, hujan asam dapat dicegah.

Penyebab Hujan Asam

Penyebab paling sering terjadinya hujan asam adalah pembakaran bahan bakar fosil, misalnya pembakaran di pusat pembangkit listrik, kendaraan bermotor, atau hal lainnya yang juga menyebabkan pemanasan global. Pembakaran tersebut akan menghasilkan gas karbondioksida (CO2), Nitrogen oksida dan Sulfur Oksida.  Asamnya hujan ini dikarenakan kandungan karbondioksida atau CO? yang larut dengan air hujan itu dan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Hujan asam terjadi ketika sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOX) menyebar di atmosfer setelah diangkut oleh angin atau arus udara.  Ketiga gas tersebut kemudian akan naik ke atmosfer dan bereaksi dengan oksigen di udara dan kemudian bereaksi dengan air. Sementara itu, menurut laporan National Geographic, hujan asam merupakan situasi ketika air hujan bercampur dengan sulfur dioksida dan nitrogen dioksida. Hal itu mengakibatkan air hujan bersifat asam dan memiliki pH rendah, yakni 4,2 sampai 4,4. Padahal, hujan normal memiliki pH sekitar 5,6.

 Proses Terjadinya Hujan Asam

IMG_256

Awal mula terjadinya hujan asam adalah ada tiga gas yaitu SO2, NOx dan CO2 yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar baik itu dari industri, kendaraan bermotor ataupun pembangkit listrik. Ketiga gas tersebut kemudian akan naik ke atmosfer dan bereaksi dengan oksigen di udara dan kemudian bereaksi dengan air. Berikut adalah reaksi kimia yang terjadi.

2SO+ O2 → 2SO3
SO3 + H2O → H2SO4

Gas sulfur dioksida (SO2) akan mengikat oksigen di udara dan berubah menjadi sulfur trioksida (SO3). Sulfur trioksida (SO3) kemudian akan bereaksi dengan air di udara membentuk air hujan berupa asam sulfat (H2SO4).

2NO + O2 → 2NO2
2NO2+ H2O → HNO3+HNO2

Gas Nitrogen oksida (NO2) yang naik ke atmosfer akan bereaksi oksigen membentuk gas nitrogen dioksida (NO2). Nitrogen dioksida kemudian bereaksi kembali dengan partikel air di udara dan membentuk air hujan berupa asam nitrat (HNO3) dan asam nitrit (HNO2). Asam sulfat (H2SO4), asam nitrat (HNO3), dan asam nitrit (HNO2) kemudian turun ke permukaan Bumi dalam rupa air hujan, salju, atau kabut yang bersifat asam. Air hujan asam kemudian menyirami permukaan Bumi, masuk ke dalam tanah, air dan memberikan efek yang buruk bagi kehidupan.

Dampak Buruk Hujan Asam

1. Tumbuhan Terancam Mati

Air hujan asam akan mengubah pH tanah dan mengakibatkan aluminium meresap ke dalam tanah. Aluminium tersebut juga menghalangi mineral lain yang dibutuhkan tumbuhan. Hal itu mengakibatkan tumbuhan kekurangan mineral dan air, lalu pada akhirnya akan mati apabila hujan asam terjadi secara terus-menerus. Saat hujan tersebut turun ke permukaan bumi, air asam itu membasuh tumbuhan dan mempengaruhi tanah di sekitarnya. Asam dari hujan itu dapat mengakibatkan lingkungan kekurangan mineral, kalsium, serta magnesium. Air asam yang menyentuh tumbuhan bisa mengikis jaringan epidermis, utamanya di bagian kloroplas daun sehingga kemampuan fotosintesis tumbuhan tersebut jadi berkurang. Salah satu cara untuk mengetahui apakah sedang terjadi hujan asam adalah mengamati tumbuhan di sekitar lingkungan. Apabila tumbuhan tampak layu bahkan sekarat, kemungkinan terjadi hujan Selain itu, hujan asam juga dapat menyebabkan tanah kehilangan kandungan nutrisi serta mineralnya. Menurut para ilmuwan, air asam bisa melarutkan nutrisi dan mineral yang bermanfaat bagi tanah, lantas menyapunya sebelum pohon dan tanaman lain bisa menggunakannya untuk tumbuh. Di saat yang sama, hujan asam juga mengakibatkan pelepasan zat-zat beracun bagi pohon dan tanaman, misalnya aluminium ke dalam tanah. Logam beracun seperti aluminium, kadmium, serta merkuri larut dalam tanah karena adanya reaksi dengan asam.

2. Hewan Terancam Mati

Hujan asam dapat meningkatkan kadar karbon dioksida dalam air yang membuat hewan terdampak tidak bisa bernapas, pada akhirnya akan mati mengambang. Selain itu, hujan asam juga sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan rantai makanan. Matinya hewan pada ekosistem air akan mengurangi makanan bagi pemakan rantai makanan lain seperti burung, ular, dan juga beruang. Hal ini bisa menyebabkan kelaparan berkepanjangan bagi hewan-hewan tersebut.

Selain itu, hujan asam juga memberikan efek yang sangat besar, terutama pada hewan yang tinggal di lingkungan air, misalnya danau, sungai, atau rawa-rawa. Hujan air asam itu akan merusak insang ikan, membuat embrio hewan air mati, serta membuat ikan menjadi mandul lantaran sangat kekurangan kalsium.

3. Menyebabkan Berbagai Macam Penyakit

Hujan asam juga dapat menyebabkan berbagai macam penyakit bagi makhluk hidup. Ketika hujan asam sudah berhenti, partikel-partikel asam bakal mengendap di lingkungan terdampak, lalu terhirup oleh manusia. Partikel asam itu lantas akan masuk ke dalam paru-paru, dan pada akhirnya menyebabkan berbagai macam gangguan pernapasan, di antaranya asma, bronkitis, emfisema, serta pneumonia. Tak hanya itu, partikel yang tidak terhirup juga bisa menyebabkan iritasi pada mata serta gangguan penglihatan. Partikel dari hujan asam yang berupa sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) amat berbahaya apabila terpapar dalam jumlah besar atau dalam jangka panjang. Dalam sebuah penelitian, terungkap bahwa terdapat hubungan antara peningkatan paparan senyawa tersebut dengan penyakit jantung dan gangguan pernapasan, misalnya asma, batuk kering, dan iritasi tenggorokan.

Tak hanya itu, adanya polusi udara juga memperparah dampak hujan asam bagi kesehatan, yaitu penyakit jantung, kanker paru-paru, ISPA atau saluran pernapasan akut dan kronis, sakit kepala, juga iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Kelompok yang sangat rentan terhadap kondisi udara tersebut adalah anak-anak, orang tua, orang yang bekerja di luar ruangan, serta penderita gangguan paru-paru atau jantung.

Polutan yang menjadi penyebab hujan asam (sulfur dioksida dan nitrogen oksida) memang memiliki peran besar dalam merusak kesehatan manusia. Gas-gas tersebut berinteraksi di atmosfer, lalu membentuk partikel sulfat dan nitrat halus yang dapat diangkut jarak jauh oleh angin, kemudian dihirup dalam-dalam ke paru-paru manusia. Sudah banyak penelitian ilmiah yang mengidentifikasi hubungan antara peningkatan kadar partikel halus, peningkatan penyakit dan kematian dini imbas gangguan jantung dan paru-paru seperti asma dan bronkitis.

Namun, ada satu hal yang perlu kamu ketahui. Hujan asam sebenarnya tidak terlalu berbahaya terhadap kesehatan manusia asalkan hujan asam yang turun itu tidak mengandung sulfur dan nitrogen oksida. Sebab, kedua polutan itulah yang dapat meracuni manusia. 

4. Merusak Material Bangunan

Hujan asam juga berdampak besar terhadap karena bisa merusak ekosistem dan material-material yang tersentuh hujan tersebut. Tidak semua endapan asam memiliki sifat basah, ada pula yang bersifat kering seperti butiran debu. Ketika tetesan hujan asam menjadi satu dengan endapan asam kering, akan berdampak besar terhadap bangunan. Endapan-endapan itu akan jatuh pada permukaan bangunan, lalu mengakibatkan permukaan bangunan tampak kotor. Selain itu, hujan asam juga mengandung asam sulfat dan asam nitrat. Asam sulfat dan asam nitrat merupakan asam kuat yang dapat melarutkan besi. Akibatnya, bangunan dan besi akan rusak karena terkena hujan asam. Hujan asam bisa merusak benda dan infrastruktur yang terbuat dari batu kapur dan marmer, misalnya patung atau bangunan bersejarah. Berdasarkan laporan dari Encyclopaedia Britannica, air asam bisa melarutkan batu kapur dan marmer, hal itu membuatnya terkikis dan rusak bentuknya. Sulfur dan nitrogen oksida yang mengendap pada hujan asam dapat berdampak buruk pada material logam, batu, bahkan cat. Ketika material itu terkena hujan asam, logam dapat mengalami korosi dan menjadi berkarat. Sementara, pada batu yang terkena hujan asam dapat terkikis, serta cat juga bisa memudar. Hal yang harus dipahami, rusaknya beragam material itu tentu akan berdampak pada finansial. Banyak biaya perbaikan yang harus disiapkan, seperti biaya perawatan hingga mengganti ornamen yang hilang.

Pencegahan Hujan Asam

Terdapat sejumlah solusi untuk mencegah terjadinya hujan asam. Pertama, hujan asam bisa dicegah dengan membatasi penggunaan bahan bakar fosil serta beralih pada sumber energi baru dan terbarukan, seperti tenaga surya, angin, mikrohidro dan lainnya. Kedua, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan bahan bakar fosil, serta mengutamakan pemakaian sarana transportasi umum, jalan kaki atau bersepeda. Ketiga, menghemat atau mengurangi penggunaan listrik dari bahan bakar fosil dan menggantinya dengan sumber tenaga surya. Beberapa negara saat ini sudah merintis penggunaan tenaga surya untuk memproduksi listrik. Keempat, perbanyak ruang terbuka hijau. Tumbuhan hijau akan menyaring banyak polusi lingkungan dan mengganti dengan oksigen yang lebih menyejukkan. Hutan yang menjadi salah satu komunitas biologi juga merupakan ruang terbuka hijau dengan kontribusi terbesar dalam kehidupan. ~Aas